Wijaya Karya Usulkan Pembentukan Aturan Produk Perpetual ke OJK

JawaPos.com – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) tengah menawarkan produk investasi berupa surat berharga perpetual dengan jumlah penawaran sebesar Rp 2 triliun. Pada tahap pertama penawaran yang digelar tahun lalu, WIKA meraih dana Rp 600 miliar dari penawaran sekuritas tanpa tenor dan masa jatuh tempo tersebut.

Direktur Keuangan WIKA Antonius N S Kosasih mengungkapkan, perseroan saat ini tengah menggelar penawaran tahap kedua untuk surat berharga perpetual. Masa penawarannya akan berakhir pada Selasa (29/1) besok.

Sejauh ini, kata Kosasih, produk perpetual perdana yang dilempar perseroan ke pasar disambut sangat baik. Diharapkan, hasil penawaran tahap kedua ini akan lebih baik dari sebelumnya.

“Harapannya seperti itu, kita masih tunggu sampai berakhir penawarannya besok,” ujarnya di kantornya, Senin (28/1).

Kosasih mengaku, banyak pihak yang menyatakan tertarik ingin masuk sebagai investor surat berharga perpetual ini. Sayang, saat ini belum ada ketentuan resmi soal aturan main dari produk perpetual dari regulator, yaitu Otoritas Jasa Keuangan.

Dengan belum adanya peraturan soal produk perpetual, diyakini cukup mengganjal minat calon investor untuk menanamkan modalnya. Kata Kosasih, investor perpetual perseroan saat ini masih dominan berasal dari perusahaan pelat merah alias BUMN.

“Perpetual ini masih hybrid jadi belum diatur OJK. Sebenarnya banyak yang ingin masuk tapi aturannya belum ada. Kami nanti akan bicara dengan OJK soal peraturan perpetual ini, bagaimana supaya nanti bisa dibentuk,” imbuhnya.

Sementara, Direktur Utama WIKA, Tumiyana menyatakan pula, surat berharga perpetual ini diminati karena menawarkan imbal hasil yang lebih menarik dibanding produk surat utang konvensional.

“WIKA tawarkan turn over yang lebih tinggi, 10,5 persen per tahun,” kata Tumiyana.

Dia menambahkan, penerbitan surat berharga perpetual dilakukan sesuai kebutuhan perseroan saat ini, yaitu untuk kebutuhan investasi dan memperkuat modal kerja.

Sebagai informasi, surat berharga perpetual dapat menjadi alternatif sumber pendanaan bagi perusahaan konstruksi dan properti seperti WIKA. Untuk mengatasi kesenjangan (mismatch) antara kebutuhan pendanaan dengan penghimpunan arus kas yang bersifat jangka panjang, surat berharga perpetual merupakan sebuah solusi.

Surat berharga perpetual ditawarkan tanpa batas waktu dan jatuh tempo. Namun, investor akan memperoleh tambahan imbal hasil bila umur modal yang ditanamkan telah melewati jangka waktu tertentu.

Seperti halnya perpetual yang ditawarkan WIKA, investor dijanjikan memperoleh tambahan hasil sebesar 2 persen per tahun dari jumlah dana yang pembayarannya ditunda. Ini berlaku untuk periode setelah ulang tahun ke-3 hingga ke-5 dari surat berharga perpetual tersebut.

Bahkan, bila telah melewati periode ulang tahun ke-5, investor dijanjikan memperoleh tambahan imbal hasil sebesar 4,5 persen.

Selain itu, surat berharga perpetual ini dapat digunakan untuk memperkuat posisi permodalan perusahaan. Pasalnya, perpetual dicatatkan sebagai ekuitas, bukan sebagai liabilitas seperti halnya surat utang konvensional. Karena belum diatur OJK, surat berharga ini tidak dicatatkan di bursa.

Untuk diketahui, PT PP (Persero) Tbk merupakan pionir penerbit surat berharga investasi di Indonesia. Pada April tahun lalu, PTPP bekerjasama dengan PT Ciptadana Asset Management menerbitkan produk perpetual melalui Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) sebesar Rp 250 miliar.

Editor           : Saugi Riyandi
Reporter      : Romys Binekasri