Ramalan Sri Mulyani Soal Kondisi Sektor Properti Tahun Depan

JawaPos.com – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, 2019 akan menjadi tahun yang penuh rasa ketidakpastian. Alasannya, pada pertemuan tingkat tinggi G20 di Argentina tiga minggu lalu, pemimpin-pemimpin dunia sudah merevisi outlook ekonomi tahun depan dari 3,9 persen menjadi 3,5 persen. Hal itu mengindikasikan sesuatu yang kurang menyenangkan untuk sektor properti.

Begitu pun dengan International Monetary Fund (IMF) yang telah terlebih dahulu menurunkan outlook-nya tahun ini yang dapat mengancam pemulihan ekonomi. “IMF sudah menurunkan outlook-nya juga untuk tahun ini, dan tahun depan karena mereka melihat seluruh risiko downside mulai terjadi sehingga kemungkinan mulai mengancam pemulihan ekonomi,” jelas Sri Mulyani di Gedung Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (17/12).

Di samping masalah ketidakpastian, pertumbuhan ekonomi tahun depan juga masih akan dibayangi oleh tren suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS). Selain itu, The Fed terus mendapat tekanan dari Presiden AS Donald Trump yang arahnya akan naik. 

Kedua hal tersebut akan mengakibatkan pengetatan likuiditas. Jumlah uang yang beredar terutama Dolar AS akan semakin mengetat. Begitu juga di sektor properti. Pengetatan likuiditas, suku bunga, serta inflasi akan menjadi bayang-bayang bagi sektor properti di Indonesia dan negara lain.

“Di banyak negara, sesudah krismon 2008-2009 sentral bank melakukan secara sistematis dan sangat penuh apa yang disebut monetary policy listening, quantitative easing, itu adalah faktor yang menyebabkan sektor properti bisa tumbuh lagi akibat mengalami crash sesuai 2008-2009,” jelasnya.

Sri Mulyani bilang, krisis 2008-2009 menyebabkan semua harga properti jatuh, maka harga dipompa lagi dengan melakukan injeksi quantitative easing dan menurunkan suku bunga mendekati nol, sehingga harga-harga properti dan demand terhadap properti bisa meningkat lagi.

“Ini adalah sesuatu yang harus diwaspadai karena 2018 diwarnai dinamika yang tidak mudah mengenai nilai tukar, suku bunga yang cenderung meningkat, dan dari sisi likuiditas di tingkat global yang cukup ketat,” pungkasnya.

Editor      : Saugi Riyandi
Reporter : (ce1/uji/JPC)