Menteri Basuki Bagi-Bagi Sertifikat Keahlian Buat 379 Pekerja

JawaPos.com – Selain meresmikan rusun, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono secara simbolis juga menyerahkan sertifikat keahlian kepada 279 orang mahasiswa lulusan pelatihan Tenaga Ahli Muda Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Konstruksi, dan 100 peserta Bimbingan Teknis K3 melalui SIBIMA.

Para mahasiswa yang menerima sertifikat sebagai Ahli Muda K3 Konstruksi terdiri dari 100 mahasiswa jurusan Teknik Sipil Universitas Pekalongan dan 179 mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) Semarang. 

Pelaksanaan bimbingan teknis dan sertifikasi K3 Konstruksi merupakan kerja sama antara Ditjen Bina Konstruksi Kementerian PUPR dengan Unikal, Undip,  Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) dan PT Waskita Karya.

Selain sertifikat keahlian tenaga K3, Menteri Basuki juga menyerahkan sertifikat keterampilan kepada 50 orang tenaga kerja yang mendukung program KOTAKU di Provinsi Jawa Tengah untuk jabatan kerja tukang batu, tukang kayu, tukang las dan tukang besi. 

“Seperti kita ketahui bahwa era industri 4.0 merupakan era digitalisasi, dimana dibutuhkan persaingan inovasi dan keahlian. Untuk itu butuh penguatan pembinaan SDM di Perguruan Tinggi, Politeknik, Pesantren, dan SMK,” kata Menteri Basuki dalam acara peresmian, beberapa waktu lalu.

Upaya Kementerian PUPR mendorong tenaga kerja konstruksi untuk memiliki sertifikat keahlian ini merupakan bagian dari pembangunan Sumber Daya Manusia Indonesia yang berdaya saing. 

Sektor konstruksi sendiri merupakan sektor yang memiliki risiko tinggi terkait keselamatan dan kesehatan baik bagi para pekerja maupun masyarakat. Kompetensi dan disiplin Sumber Daya Manusia (SDM) konstruksi menjadi salah satu faktor penting mengurangi tingkat kecelakaan konstruksi. 

Pemerintah melalui Kementerian PUPR terus melakukan percepatan sertifikasi tenaga kerja konstruksi Indonesia. Keterlibatan peran masyarakat jasa konstruksi terutama dari institusi pendidikan, diharapkan dapat menghasilkan tenaga kerja konstruksi yang kompeten, profesional dan mandiri.

Upaya peningkatan kapasitas mahasiswa, dilakukan juga melalui pengembangan program link and match pendidikan kejuruan, vokasi dan pendidikan tinggi, pemagangan bagi peserta dan tenaga didik.

Hingga saat ini setidaknya 8,3 juta orang potensi tenaga kerja di bidang tersebut. Baru 7,42 persen bersertifikat. Sementara untuk menjaga mutu konstruksi, diwajibkan tenaga kerja yang memiliki kompetensi dibuktikan melalui sertifikasi. 

“Peluang inilah yang perlu diisi oleh tenaga kerja dari institusi pendidikan yang sudah memiliki kemampuan pengetahuan dan perilaku,” pungkasnya.

Editor           : Teguh Jiwa Brata
Reporter      : Uji Sukma Medianti