Dihadang Lumpur dan Rawa, Begini Wika Bangun Infrastruktur di Asmat

JawaPos.com – PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) mendapat tugas membangun infrastruktur jalan dan jembatan gantung di Kabupaten Asmat, Provinsi Papua Barat. Untuk penanganan darurat bencana virus campak dan gizi buruk di

Daerah tingkat II tersebut berkondisi alam didominasi tanah berlumpur dan rawa. Tak heran jika, rumah-rumah, dan jalan penghubung di Kabupaten ini dibangun di atas papan berbahan kayu trembesi.

Kondisi jalan papan yang sudah renta, butuh penyesuaian dan penyempurnaan melalui pengerasan beton.

Dihadang Lumpur dan Rawa, Begini Wika Bangun Infrastruktur di AsmatMelalui pembangunan secara merata di daerah tertinggal, terluar dan terdepan seperti di Kabupaten Asmat, WIKA menggerakan masyarakat Asmat agar lebih mandiri. (Kementerian BUMN.)

Berdasarkan evaluasi  kualifikasi,  administrasi, teknis, harga serta pembuktian kualifikasi oleh Kementerian  PUPR Direktorat Bina Marga Balai Besar Pembangunan Jalan Nasional XVIII, WIKA ditetapkan sebagai pelaksana membangunan infrastruktur di Bumi Asmat. Skup pekerjaannya yaitu pembangunan jalan beton (pile slab) dan jembatan gantung 72 meter. Dituangkan dalam kontrak nomor HK.02.03/PJN – WIL.IV/PPK-IV.3/466.

Manajer Proyek Pembangunan Infrastruktur Jalan dan Jembatan Wika, Eko Suranto Putro menerangkan, ada tiga hal yang menjadi tantangan mendasar agar proyek ini dapat diselesaikan sesuai target.

Pertama, kondisi tanah rawa yang mendominasi daerah ini, membuat pemenuhan kebutuhan air bersih menjadi sulit. 

“Tantangan kedua yang dihadapi oleh Wika adalah effort luar biasa untuk mendistribusikan material beton precast sejak diproduksi di PPB WIKA Beton Pasuruan sampai ke pedalaman Asmat,” paparnya dalam keterangan resmi, Sabtu (23/2).

Ketiga, distribusi beton precast dari PPB WTON Pasuruan menuju titik nol lokasi memanfaatkan sungai sebagai penghubung. Namun, ternyata sungai itu dangkal dan dipengaruhi arus pasang surut. Sehingga hanya kapal bermuatan kecil yang bisa masuk. 

Untuk menyediakan air bersih terkait pengecoran beton, manajemen proyek membuat bak, dan kolam penampungan air hujan. Tersebar merata di lokasi proyek. Tim juga akan melakukan pembelian air bersih di distrik lain menggunakan kapal kayu.

Pengiriman material precast dari PPB WTON Pasuruan menuju Asmat juga dilaksanakan melalui kerja sama dengan pelaku ekspedisi rute Indonesia timur. Menggunakan kapal kargo berkapasitas 2.400 ton menuju Pelabuhan Agats.

Setelah tiba di Agats, material precast dipindahkan terlebih dahulu ke LCT (landing craft tank) yang kemudian masuk ke sungai menuju area pekerjaan. Sebagai catatan, pembongkaran dilakukan tidak menggunakan waktu normal sebagaimana pembongkaran barang pada umumnya. 

Agar mempermudah proses pemindahan material precast dilakukan saat kondisi sungai pasang. Yaitu pada rentang  jam 2 dini hari. “Kemudian menjawab bagaimana mekanisme langsir precast dengan bobot yang berat ke area pemasangan di tanah yang lunak. Manajemen Proyek WIKA menerapkan dua metode efektif,” jelasnya.

Pertama, untuk area kosong tim WIKA menggunakan excavator dengan dudukan kayu di perlintasannya. Kedua, membuat portal baja yang dapat beroperasi di rel baja (rel dijepit pada tiang yang sudah terpancang).

“Melalui pembangunan secara merata di daerah tertinggal, terluar dan terdepan seperti di Kabupaten Asmat, WIKA menggerakan masyarakat Asmat agar lebih mandiri, berdaya saing, bersinergi sehingga kelak dapat berdikari,” pungkasnya.

Editor           : Teguh Jiwa Brata
Reporter      : Uji Sukma Medianti