Beda Nasib dengan MRT, Kelanjutan LRT Terganjal Pembebasan Lahan

JawaPos.com – Berbeda dengan MRT yang segera beroperasi, kelanjutan proyek light rail transit (LRT) di Jakarta belum jelas. Karena itu, kemarin diadakan rapat koordinasi untuk membahas percepatan proyek LRT.

Rapat di kantor Kemenko Kemaritiman itu mempelajari penyebab lambatnya penyelesaian LRT.

“Sebenarnya proyek LRT itu terhambat hanya karena masalah tanah, ada beberapa sertifikat tanah yang belum beres. Padahal, kawasan tersebut akan dibangun konstruksi LRT,” ucap Menko Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan. Dia mengatakan, beberapa bidang lahan yang akan dilewati LRT harus dibebaskan. Sebab, kawasan tersebut ternyata masih ditempati masyarakat. Padahal, lahan itu sejatinya milik negara. “Terutama di lahan yang akan dibangun Adhi Karya ini, ya,” tambah Luhut.

Beda Nasib dengan MRT, Kelanjutan LRT Terganjal Pembebasan LahanLRT Jakarta adalah satu proyek moda transportasi masal dikerjakan Pemprov DKI Jakarta dan akan beroperasi dalam waktu dekat. (Issak Ramdhani/JawaPos.com)

Dia juga menyesalkan karena sertifikat lahan tersebut tidak diurus pemerintah sejak lama. Akibatnya, ketika saat ini hendak memakai lahan, pemerintah kewalahan melakukan pembebasan. “Konyol juga, kenapa tidak disertifikasi selama ini. Tapi, karena ini menyangkut kebutuhan publik, tentu saja kami akan selesaikan,” katanya. Setelah pembebasan lahan beres, pembangunan LRT akan diteruskan.

LRT merupakan salah satu megaproyek yang dibangun pemerintah. Ada dua jalur yang dibangun. LRT Jakarta akan menghubungkan beberapa wilayah di Jakarta. Ada juga LRT Jabodetabek yang menyambungkan Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.

Proyek itu diinisiasi Pemprov DKI Jakarta. Pelaksananya adalah PT Adhi Karya. Ada enam rute yang dibangun PT Adhi Karya. Yakni, Cawang-Harjamukti, Cawang-Kuningan-Dukuh Atas, Cawang-Jati Mulya, Cawang-Palmerah-Senayan, Harjamukti-Bogor, Palmerah-Grogol/Bogor.

Proyek itu awalnya direncanakan rampung pada akhir 2018. Namun, sampai saat ini pengerjaannya molor. Semula disebutkan bakal tuntas Januari tahun ini, lalu molor jadi Februari. Beberapa kritik pedas pun datang silih berganti. Termasuk dari Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Rute dengan pengerjaan paling cepat adalah Boulevard Kelapa Gading-Velodrome. Ada enam stasiun yang dilewati rute tersebut. Yakni, Pegasangan Dua, Boulevard Utara, Boulevard Selatan, Pulomas, Equestrian, dan Velodrom. Rute itu memiliki panjang sekitar 5,8 kilometer dengan jarak tempuh 13 menit. Jika ditotal, waktu tempuh antarstasiun adalah 1-2,5 menit. Rute tersebut sengaja dikebut karena mengejar target pengoperasian yang direncanakan bulan ini. 

Editor           : Ilham Safutra
Reporter      : (bin/c10/git/oni)